Rumput Timoty dan Alfalfa
Daun ALFALFA dan rumput TIMOTHY adlh pakan ternak yg sangat baik dibandingkanhijauan atau rumput lain krn kaya akan kandungan protein, vitamin dan mineral,
selain diberikan dlm keadaan segar pada ternak/hewan peliharaan, daun alfalfa
dan rumput timothy juga dijadikan hay(rumput kering) yg bnyk dijual dipetshop
dgn harga kisaran 30-60rb/kg.
Alfalfa kaya akan berbagai zat gizi. Kandungan klorofilnya sangat tinggi,
sehingga tumbuhan yang banyak dimanfaatkan daunnya ini dipercaya bisa
menyembuhkan bermacam penyakit, mulai dari perut kembung sampai kanker.
Kata alfalfa mungkin masih terasa asing di telinga orang Indonesia. Tanaman
alfalfa memang belum banyak dibudidayakan di sini, meski berbagai produknya
banyak dijual di pasaran. Salah satunya dalam bentuk suplemen.
Sejak abad ke-6, alfalfa (Medicago sativa) telah digunakan oleh bangsa Cina
untuk mengobati batu ginjal dan kembung. Alfalfa juga dipercaya dapat
menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti kanker dan kencing manis. Di Eropa,
alfalfa dikenal sebagai “obat rakyat” yang sangat baik untuk memperlancar
kencing.
Alfalfa merupakan tanaman kacang-kacangan yang tumbuh di berbagai kondisi iklim,
dengan kemampuan adaptasi cukup baik, sehingga tersebar di berbagai belahan
dunia. Amerika Serikat merupakan produsen alfalfa terbesar hingga saat ini.
Namun, tanaman ini juga dibudidayakan di Eropa, Australia, Amerika Selatan,
Afrika Selatan, Cina, dan Timur Tengah. Di Indonesia, tanaman ini mulai
dibudidayakan,
Pakan ternak
tanaman alfalfa dapat hidup tiga hingga 12 tahun, tergantung varietas dan iklim
di mana tanaman itu hidup. Tingginya bisa mencapai satu meter, memiliki akar
yang sangat panjang hingga mencapai 4,5 meter.
Keunggulan itulah yang menyebabkan alfalfa mampu bertahan hidup, sekalipun saat
terjadi kekeringan. Tanaman alfalfa berbunga sekitar bulan Juni sampai Agustus.
Bunga selanjutnya berkembang menjadi buah yang berisi biji alfalfa.
Alfalfa berasal dari Iran. Masyarakat Arab menyebutnya sebagai “bapak makanan”.
Penyebaran tanaman ini ke berbagai belahan dunia diduga terjadi pada zaman
perunggu. Zaman dulu digunakan sebagai pakan kuda tentara Persia. Penyebarannya
sendiri diperkirakan melewati daerah Asia Tengah.
Amerika Serikat mulai mengenal alfalfa sekitar tahun 1860, yang berasal dari
Chile. Pada awalnya tanaman ini digunakan sebagai pakan sapi, domba, kuda, dan
kambing. Alfalfa tinggi nilai gizinya sebagai pakan ternak.
Seperti pada jenis tanaman kacang-kacangan lainnya, pada akar alfalfa terdapat
bakteri Rhizobium yang mampu memfiksasi (mengikat) nitrogen. Hal inilah yang
membuat alfalfa dapat dijadikan pakan ternak dengan kandungan protein tinggi,
tergantung pada ketersediaan nitrogen di dalam tanah.
Keuntungan lain dibandingkan dengan tanaman pakan ternak lainnya adalah memiliki
rendemen tertinggi. Selain digunakan sebagai pakan ternak, alfalfa juga
dikonsumsi manusia, terutama bagian daunnya.
Studi secara ekstensif sudah banyak dilakukan terhadap alfalfa. Seluruh bagian
tanaman ini mengandung komponen yang bersifat fungsional bagi tubuh, seperti:
saponin, sterol, flavonoid, kumarin, alkaloid, vitamin, asam amino, gula,
protein, mineral, dan komponen gizi lainnya. Juga mengandung serat (dietary
fiber) dalam jumlah cukup banyak dan dapat berfungsi sebagai antikolesterol.
Alfalfa dikenal sebagai salah satu tumbuhan dengan kandungan gizi sangat tinggi.
Kandungan kalsium, klorofil, karoten, dan vitamin K yang cukup tinggi,
menjadikan alfalfa sebagai salah satu suplemen yang sering dikonsumsi manusia.
Saponin pada akar alfalfa dapat menghambat peningkatan kolesterol dalam darah
hewan percobaan yang diberi pakan tinggi kolesterol (sebesar 25 persen).
Sayangnya, saponin juga memiliki efek negatif, yaitu bersifat hemolitik dan
dapat mengganggu metabolisme vitamin E.
Keunggulan lain alfalfa adalah memiliki kandungan vitamin dan mineral cukup
lengkap. Vitamin yang terkandung dalam alfalfa adalah: vitamin A, thiamin
(vitamin B1), riboflavin (vitamin B2), niasin (vitamin B3), vitamin B5, vitamin
B6, vitamin C, vitamin K, dan asam folat. Mineral unggulan, yakni kalsium, besi,
magnesium, fosfor, tembaga, dan seng. Jumlah vitamin dan mineral tersebut dapat
dilihat pada tabel.
Tabel. Kandungan gizi per 100 gram Alfalfa
Zat Gizi Kadar
Energi 23 kkal
Karbohidrat total 2,1 g
Serat pangan 2,9 g
Lemak total 0,7 g
Protein 4,0 g
Vitamin A 155 IU
Vitamin C 8,2 mg
Vitamin K 30,5 mg
Asam folat 36 mkg
sumber: http://www.nutritiondata.com
Sebetulnya hampir seluruh tumbuhan hijau mengandung vitamin K. Namun, kandungan
vitamin K dalam 100 gram alfalfa cukup tinggi, yang dapat memenuhi 38 persen
dari total kebutuhan tubuh dalam sehari. Hal ini dapat menjadikan alfalfa sebagi
salah satu sumber vitamin K bagi tubuh.
Vitamin K sangat penting untuk pembentukan protein dan penggumpalan darah pada
saat terjadi luka. Vitamin K juga dapat berfungsi sebagai zat antihemolitik,
khususnya saat terjadi perdarahan, seperti pada orang-orang yang sedang
melakukan terapi antibiotik dan bagi penderita diare kronis.
Yang Lupus Dilarang Makan Bijinya
Pepatah kuno mengatakan “makanlah sewaktu lapar dan berhentilah sebelum
kenyang”. Pepatah tersebut ingin mengatakan bahwa segala sesuatu yang dimakan
berlebihan, justru akan berakibat buruk bagi tubuh.
Sama halnya dengan klorofil, konsumsi yang berlebihan justru dapat mengakibatkan
lelah yang luar biasa. Karena itu, sangat dianjurkan untuk mengonsumsi klorofil
sesuai dosis yang telah ditetapkan.
Saat ini alfalfa banyak tersedia dalam bentuk suplemen. Di Amerika dan
Australia, bagian daun yang masih muda biasa dikonsumsi sebagai salah satu bahan
salad. Di Cina, alfalfa biasanya direbus dan digunakan sebagai obat herbal.
Selain itu, alfalfa juga sering dibuat jus.
Untuk membuat minuman alfalfa dari daun keringnya juga cukup mudah. Caranya sama
seperti menyeduh teh. Selain itu, alfalfa juga sering digunakan dalam sup.
Meskipun alfalfa mempunyai khasiat yang cukup baik, konsumsi alfalfa oleh
manusia harus dibatasi karena kandungan serat yang sangat tinggi. Daun alfalfa
yang sudah dikeringkan digunakan sebagai suplemen dalam bentuk tablet, bubuk,
dan teh.
Selain daun, biji tanaman ini juga dapat dikonsumsi, tetapi tidak dianjurkan
bagi penderita lupus (systemic lupus erythematosus) karena mengandung asam amino
beracun L-canavanine yang diduga dapat mengakibatkan lupus-like syndrome.
Beragam Fungsi Klorofil
Klorofil berperan dalam proses fotosintesis pada tumbuh-tumbuhan. Fotosintesis
adalah proses menyerap dan menggunakan energi sinar matahari, untuk mengubah
karbondioksida dan air jadi karbohidrat dan oksigen.
Klorofil memiliki manfaat sangat banyak, khususnya bagi tubuh manusia, terutama
jika dikonsumsi dalam dosis tepat.
1. Pembersih
Klorofil bermanfaat sebagai desinfektan dan antibiotik selama perang dunia,
sebelum morfin ditemukan. Sampai kini klorofil digunakan untuk program pembersih
kotoran. Klorofil mendorong proses detoksifikasi, membersihkan jaringan tubuh
beserta bakteri dan parasit yang ada dalam jaringan sakit. Klorofil mengeluarkan
racun kimia sintetis, seperti boraks dan formalin. Kerjanya seperti memandikan
bagian dalam tubuh kita.
Molekul klorofil punya ekor hidrofobik yang masuk ke dalam hidrokarbon dinding
sel tubuh dan menariknya keluar, seperti sabun melepaskan minyak dari tangan.
Termasuk golongan hidrokarbon adalah pestisida, narkotika, flavor makanan, dan
lain-lain.
Hati membongkar senyawa kimia sintetis tersebut, mengeluarkannya dari aliran
darah. Klorofil membantu kerja hati, sehingga tidak bekerja terlalu berat.
2. Penguat otak alami
Kadar asam nukleat dan asam amino pada klorofil dapat memenuhi kebutuhan otak
akan protein, terutama neuropeptida (bagian otak yang mengolah pikiran dan emosi
positif).
3. Pemberi energi
Klorofil mampu mensintesis oksigen dan karbohidrat, sehingga dapat dijadikan
sumber energi.
4. Pembentuk sel darah merah
Klorofil adalah pembuat sel darah merah tercepat. Klorofil memiliki kemiripan
struktur dengan hemoglobin dalam darah manusia, hanya atom sentral Fe2+ pada
hemoglobin diganti dengan Mg2+ pada klorofil. Kemiripan struktur dan fungsi
antara klorofil dan hemoglobin menjadikan klorofil dapat digunakan sebagai zat
antianemia.
5. Membantu imunitas
Klorofil merangsang produksi sel darah putih yang bertugas melawan serangan
mikroorganisme penyebab penyakit dan memperkuat sistem kekebalan tubuh dengan
pasokan antitumor, antikuman, dan sebagainya, untuk menghambat pertumbuhan
bakteri, infeksi jamur, dan luka di saluran pencernaan. Antibakteri juga dapat
mengatasi bau mulut, bau badan, serta mencegah. kerusakan gigi dan gusi.
Penghancur Radikal Bebas
Daun alfalfa merupakan salah satu sumber klorofil, empat kali lebih tinggi
daripada sayuran biasa. Telah banyak dilakukan kajian ilmiah tentang khasiat
klorofil, di antaranya sebagai pembersih dalam tubuh, pembentuk sel darah,
pengatur keseimbangan asambasa tubuh, peningkat daya tahan, serta pengganti sel
yang rusak.
Klorofil dari alfalfa umumnya tersedia dalam bentuk ekstrak dan dijadikan
suplemen. Sebagai obat, klorofil digunakan dalam pencegahan ataupun pengobatan
berbagai jenis penyakit seperti kanker, radang, anemia, konstipasi, antibakteri,
dan lain-lain.
Alfalfa mengandung lebih dari seratus komponen bioaktif yang bermanfaat bagi
kesehatan. Salah satu komponen paling dominan adalah saponin glukosida. Komponen
saponin pada alfalfa mencapai 2-3 persen. Penelitian pada hewan percobaan
menunjukkan saponin dapat membantu menurunkan kadar kolesterol darah.
Klorofil merupakan zat hijau daun (pigmen hijau) yang terdapat pada semua
makhluk hidup yang melakukan fotosintesis. Klorofil termasuk zat yang sudah
ribuan tahun akrab dengan sel-sel tubuh manusia. Zat yang berwarna hijau atau
hijau kebiruan ini merupakan sel hidup pertama yang tumbuh di atas muka bumi,
yaitu dalam bentuk lumut (blue-green algae).
Lumut tersebut telah tumbuh sekitar tiga setengah miliar tahun lalu, sedangkan
sel-sel organisme lainnya baru muncul sekitar 650 juta tahun lalu. Meski begitu,
sampai saat ini, bagaimana proses terbentuknya klorofil di dalam struktur
tumbuh-tumbuhan masih merupakan misteri.
Sejak-lama klorofil dipercaya memiliki khasiat untuk panjang umur. Berbagai
penelitian masa kini sudah membuktikan bahwa mereka yang lebih banyak
mengonsumsi makanan tinggi klorofil memiliki kualitas kesehatan yang lebih baik.
Klorofil memiliki hampir semua zat gizi yang diperlukan tubuh dalam komposisi
seimbang. Klorofil juga kaya zat antiperadangan, antibakteri, antiparasit, dan
zat-zat berkhasiat obat lainnya.
Klorofil telah diteliti memiliki aktivitas biologis, yaitu sebagai antioksidan
dan antikanker. Klorofil dan beberapa senyawa turunannya pada awalnya dianggap
sebagai prooksidan, yaitu zat yang dapat memicu terjadinya oksidasi di dalam
tubuh yang menghasilkan radikal bebas. Dalam perkembangannya, klorofil justru
berperan sebagai antioksidan atau penghancur radikal bebas, terutama jika
dikonsumsi pada jumlah tertentu.
Oleh:
Prof. DR. Made Astawan
Ahli Teknologi Pangan dan Gizi
SUMBER:SENIOR
:
Alfalfa atau yang dalam bahasa latinnya disebut Medicago sativa adalah sejenis
tanaman herba tahunan dengan ciri berakar tunggang, batang menyelusur tegak dari
dasar kayu dan tingginya berkisar 30-120 cm, serta daun tersusun tiga.
Tangkai daun berbulu dan berukuran 5-30 mm. Kedalaman akar alfalfa dapat
mencapai 2-4 meter. Saat memulai perkembangan batang, tunas aksiler di bagian
bawah ketiak daun akan membentuk batang sehingga mahkota pada bagian dasar
menjadi pangkal dan tunas aksiler di atas tanah membentuk percabangan.
Perbungaan tersusun pada tandan yang padat dengan bunga kecil berwarna kuning.
Tumbuhan ini mampu hidup hingga 30 tahun, bergantung dari keadaan lingkungan.
Alfalfa juga memiliki bintil (nodul) akar yang mengandung bakteri Rhizobium
meliloti sehingga dapat menambat atau mengikat nitrogen dari atmosfer untuk
keperluan tumbuhan.
Alfalfa bisa dibudidayakan bersamaan dengan beberapa tanaman lain, seperti
kembang telang (Clitoria ternatea), Cenchrus ciliaris, Macroptilium bracteatum,
dan lain-lain. Tanaman alfalfa lebih tahan terhadap kekeringan bila dibandingkan
tanaman kacang-kacangan lainnya. Hal ini dikarenakan akar yang panjang dan
tanaman memiliki kemampuan melakukan dormansi (tidak aktif) saat musim kemarau
yang parah. Saat mencapai kelembaban tertentu, alfalfa dorman dapat kembali
aktif.
Musim penanaman alfalfa biasanya berlangsung pada peralihan musim , namun
pertumbuhan utama terjadi pada awal musim panas. Tumbuhan ini memerlukan waktu
penyinaran yang panjang. Perkebangan perbungaan dari setiap kultivar alfalfa
bisa berbeda satu dengan lainnya karena lama penyinaran yang diperlukan juga
berbeda.
Alfalfa tahan terhadap herbisida seperti benazolin, bentazon, dan asam
2,4-Diklorofenoksiasetat. Apabila ingin menanam alfalfa saja (monokultur),
terutama pada musim hujan, dapat digunakan propizamida untuk mencegah
pertumbuhan gulma yang mengganggu.
Pada tahap pembenihan, irigasi umumnya diperlukan. Untuk mencegah hama dan
penyakit, penyemprotan fungisida dan insektisida diperlukan dalam masa
penanaman. Beberapa agen penyebab penyakit pada alfalfa adalah Xanthomonas
alfalfa, Alternaria solani, Fusarium oxysporum, Rhizoctonia solani, Phytophthora
megasperma, dan Uromyces striatus. Pada waktu panen, biji-bijian biasanya
disemprot dengan pengering tanaman untuk mempercepat pengeringan. Waktu panen
yang tepat adalah ketika polong-polongan berisi biji sudah 65-75% berwarna
coklat gelap.
Alfalfa dimanfaatkan sebagai pakan ternak untuk sapi perah dan sapi potong,
domba, dan kambing. Selain itu Alfalfa juga digunakan untuk rotasi tanaman
pangan karena alfalfa bisa mengikat kandungan nitrogen, memperbaiki struktur
tanah, dan mengontrol gulma untuk tanaman berikutnya yang akan dibudidayakan.
Sebagai pakan ternak, tanaman ini memiliki kandungan protein, vitamin, dan
mineral yang tinggi. Untuk melakukan budidaya alfalfa, kondisi tanah yang harus
diperhatikan adalah pH atau tingkat keasaman berkisar 6,3-7,5 dan kandungan
garam dalam tanah tidak boleh terlalu tinggi. Selama masa aktif pertumbuhannya,
alfalfa tidak membutuhkan tanah yang basah.
Budidaya alfalfa sebagai pakan ternak dilakukan untuk beberapa tujuan, yaitu
penggembalaan dan konservasi. Alfalfa dapat ditanaman sendiri ataupun sebagai
campuran di antara rumput tropis dan sub-tropis. Bibit alfalfa juga banyak
ditanaman sebagai kecambah untuk makanan manusia.
Alfalfa banyak diproduksi karena nilai nutrisi dan produksinya yang
menguntungkan, selain itu tanaman ini juga disebutkan memiliki rasa yang enak.
Dibandingkan dengan pakan ternak dari tanaman lainnya, alfalfa memiliki
kandungan protein dan kalsium yang tinggi, tetapi energi termetabolisme dan
kadar fosfor di dalamnya relatif rendah. Alfalfa juga termasuk berserat rendah
sehingga mudah mencapai rumen (perut besar) dan mudah dicerna oleh hewan ternak.
Dengan pemberian irigasi, tanaman alfalfa dapat memproduksi 25-27 ton per hektar
kadar kering pada tahun pertama dan turun hingga 8-15 ton per tahun pada tahun
ketiga. Produksi tersebut bergantung pada densitas tanaman, tingkat resistensi
hama dan penyakit, aktivitas di musim dingin, dan hujan yang mempengaruhi
kelembaban tanah. Dengan hasil produksi tersebut, penanaman alfalfa dapat
meningkatkan produksi susu pada sapi. Alfalfa yang tumbuh sepanjang tahun ini
juga mencegah terjadinya defisiensi (kekurangan) energi pada ternak dan
memperbaiki atau meningkatkan padang rumput.











0 komentar:
Posting Komentar